Ads 720 x 90

Resesi Amerika GDP Anjlok 32.9%



Dilansir dari CNBC Indonesia, perekonomian AS mengalami kontraksi sebesar 5 persen pada Kuartal I 2020 kemarin. Dan jajak pendapat dari media Reuters menyebut AS akan mengalami kontraksi lanjutan di Kuartal II 2020 sampai sebesar 32,4 persen alias nyungsep luar biasa.

Sedianya data produk domestik bruto (PDB / GDP) ini akan diumumkan AS pada Kamis (30/7) mendatang. Meski masih dua pekan dari sekarang, pelaku pasar diharapkan sudah mulai bersiap-siap apabila AS kembali menghadapi resesi.

Namun apabila sampai melaporkan resesi, sejatinya itu bukan yang pertama kali terjadi pada AS. Melansir Investopedia, AS yang merupakan negara dengan nilai ekonomi terbesar di muka bumi saat ini, sudah mengalami 33 kali resesi sejak 1854.

Apabila dihitung sejak tahun 1980, maka negara yang kini dipimpin oleh Presiden Donald Trump itu hanya mengalami empat kali resesi. Salah satu yang terburuk terjadi pada 2008 lalu ketika terjadi krisis finansial global yang turut menggoyahkan perekonomian Indonesia.

Namun resesi AS sejatinya bukan ancaman terbesar yang pernah dihadapi negara itu. Negara Paman Sam pernah menghadapi situasi yang jauh lebih berat ketimbang "sekadar" resesi, yakni Depresi Besar alias "The Great Depression" alias resesi yang berlangsung selama 1 dekade.

Peristiwa bersejarah ini terjadi pada tahun 1930-an. Namun pada akhirnya AS pun berhasil bangkit dan mempertahankan statusnya sebagai negara dengan nilai ekonomi terbesar di dunia.

Sebelumnya Singapura sudah mengumumkan resesi pada pekan lalu. Resesi Singapura ini tercatat sebagai yang terburuk yang pernah dialami oleh Singapura, kendati negara tersebut biasanya stabil secara ekonomi apabila dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lain

Dan kekinian muncul isu bahwa ada negara maju lain yang diprediksi akan mengalami resesi di Kuartal II 2020 ini. Negara tersebut tak lain adalah Amerika Serikat dengan prediksi anjlok ekonomi yang tidak main-main, yakni mencapai 32 persen.

Wabah virus Corona diketahui tak hanya mengguncang sektor kesehatan, tetapi juga aspek kehidupan lain seperti perekonomian. Beberapa negara dengan kekuatan perekonomian yang baik, termasuk Singapura, bahkan sudah melaporkan resesi karena tak kuat dengan tekanan dari wabah tersebut.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter