Takut Perang Dunia III, Kripto Longsor Ditinggal Investor


Jakarta, Aset atau instrumen investasi beresiko seperti mata uang kripto kompak berguguran di sepanjang pekan ini.
Tingginya inflasi di AS membuat the Fed bersiap melakukan siklus pengetatan moneter. Inflasi AS di bulan Januari 2022 tercatat naik 7,5% secara year on year (yoy) dan menjadi kenaikan inflasi tertinggi dalam 4 dekade terakhir.

Hal tersebut dilakukan dengan melakukan tapering atau pengurangan likuiditas, kenaikan suku bunga acuan hingga mereduksi size neraca (balance sheet).
Selain itu ketegangan geopolitik Russia-Ukraina dan AS yang meningkat juga semakin memperkeruh suasana.

Keinginan Ukraina untuk gabung dengan aliansi militer NATO mendapat tentangan dari Russia sampai Negeri Beruang Merah menerjunkan pasukan militernya di perbatasan Ukraina.

Presiden AS Joe Biden menyebut bahwa Russia siap melakukan invasi ke Ukraina dalam beberapa hari ke depan meskipun klaim tersebut dibantah oleh pihak Russia.
Hasilnya kripto mengalami nasib naas dan terkoreksi cukup dalam. Bitcoin dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar harganya turun 9,9% sedangkan nilai pasar token kripto pesaingnya yakni Ethereum turun 10,73% sepanjang pekan ini. Koreksi juga masih berlanjut pada perdagangan hari Minggu dimana BTC ambruk 4,6% dan ETH turun 6,4%.

Seiring dengan tumbangnya koin berkapitalisasi pasar besar, koin-koin lainya juga terpantau merah. Binance Coin dan Ripple terpantau turun 6% dan 5% pekan ini, sedangkan Cardano dan Solana terpantau tumbang 12% dan 9% sepekan terakhir.

Sementara itu inflasi yang tinggi dan tensi geopolitik yang meningkat membuat harga emas sebagai aset untuk hedging dan minim risiko justru melambung.
Dalam sepekan harga emas bergerak mendekati level psikologis US$ 1.900/troy ons setelah mengalami apresiasi sebesar 2,04%.

Dengan risiko inflasi dan geopolitik yang naik, risk appetite investor tampak menurun dan cenderung menghindari aset-aset berisiko untuk sementara waktu ini.