Tembok Greenshoe Hampir Jebol, Bagaimana Nasib Saham GOTO?

Pada perdagangan Jumat (22/4/2022), harga saham PT Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) ditutup sama persis dengan posisi pembukaan, yakni Rp340 per saham. Namun, di balik stagnansi tersebut, tembok greenshoe option yang dibangun perusahaan teknologi itu sedang digerus habis-habisan. 

CGS-CIMB Sekuritas, broker yang ditunjuk GOTO sebagai agen stabilisasi harga, memecahkan rekor alokasi pembelian saham tambahan secara harian. Tidak kurang dari 3,46 miliar lembar saham tambahan GOTO dibeli broker dengan kode YU tersebut. 

Dengan harga rata-rata pada Rp366,27 per saham, dana yang dikucurkan dalam sehari pun mencapai Rp1,16 triliun. Bila ditotal dengan pembelian yang telah dilakukan sebelumnya, artinya greenshoe option yang telah dieksekusi YU sudah mencapai sekitar 6 miliar lembar saham (Rp2 triliun) alias 98,49 persen dari alokasi total. 

Dengan realitas tersebut, hampir dipastikan tembok greenshoe yang dibangun GOTO akan jebol pada pekan depan. Dan, menurut Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana, situasi ini bukanlah pertanda bagus.


Wawan menilai volatilitas, terutama penurunan harga saham GOTO kemungkinan akan mulai terjadi pada pekan depan. 

“Sangat mungkin terjadi. Hari ini harganya sudah sempat menyentuh Rp330 juga. Ini berarti investor sudah banyak yang menjual,” kata Wawan ketika dikonfirmasi Bisnis, Jumat (22/4) sore.

Seperti kata Wawan, aksi jual yang terjadi pada Jumat (22/4) memang deras. Hal ini tercermin dari adanya peningkatan volume transaksi yang sejalan dengan tren penurunan pada pertengahan sesi perdagangan.

Berdasarkan data transaksi broker, aksi jual terbesar dilakukan investor lewat broker Ciptadana Sekuritas dengan nilai net sell Rp443,3 miliar. Disusul kemudian CLSA Sekuritas dengan net sell Rp344,4 miliar, Trimegah Sekuritas senilai Rp178,8 miliar, dan Samuel Sekuritas sebanyak Rp78,2 miliar. 

Di sisi lain, broker yang membukukan net buy tidak mengindikasikan sinyal akumulasi besar. Di luar CGS-CIMB sekuritas yang mendominasi pembelian berupa greenshoe, hanya ada satu broker yang membukukan net buy di atas Rp100 miliar yakni Credit Suisse (Rp266,5 miliar). 

Sisa broker pencatat net buy lain hanya membukukan nilai yang lebih rendah dari Rp100 miliar. 

Karenanya, tidak heran jika Wawan pun menyarankan investor agar berhati-hati. Dia tidak menganjurkan investor baru yang ingin melakukan pembelian pertama untuk mengambil porsi saham GOTO dalam waktu dekat. 

“Sebaiknya memang wait and see saja, setidaknya menunggu laporan keuangan GOTO di kuartal I/2022 rilis untuk pertimbangan. Banyak sektor lain yang lebih menarik juga dari sisi fundamental untuk investor baru,” tambahnya.
Sebenarnya, GOTO bukannya tidak punya harapan sama sekali. Di balik terus terkikisnya tembok greenshoe yang telah dibangun, sejauh ini saham perseroan masih mengundang minat tinggi di kalangan investor asing. 

Pada Jumat (22/4) misal, data broker yang dihimpun Indo Premier Sekuritas mencatat investor asing kembali melakukan net buy Rp361,6 miliar. Penambahan ini membuat total akumulasi investor asing sejak pertama kali GOTO IPO menjadi Rp854,9 miliar.

Ketertarikan ini seolah mengamini optimisme CEO GOTO Andre Soelistiyo, yang meyakini bahwa saham GOTO akan menarik minat banyak investor global. 

“Kami berharap IPO GoTo akan menunjukkan kepada dunia peluang luar biasa yang ada di Indonesia dan di seluruh kawasan Asia Tenggara.” 

Namun, di sisi lain, ketertarikan tersebut juga belum bisa jadi garansi. Pasalnya, dengan kapitalisasi pasar yang begitu besar, menjaga konsistensi kenaikan kapitalisasi pasar GOTO juga bukan perkara mudah.
Menurut analis Bloomberg Intelligence Nathan Naidu, valuasi GOTO pada akhirnya akan selaras dengan pergerakan para kompetitor sejenis. 

“Valuasi GOTO tampaknya akan tetap terpengaruh oleh kekhawatiran tentang pertumbuhan dan profitabilitasnya di tengah kondisi perekonomian yang terus mengalami inflasi,” tulis Nathan dalam riset yang diterima Bisnis. 

Seperti kata Nathan, kekhawatiran tersebut sejauh ini memang cukup menjadi pengganjal bagi gerak saham-saham teknologi sejenis. 

Saham Grab Holdings Inc., misal, hanya diperdagangkan senilai US$2,86 per awal perdagangan Jumat (22/4). Posisi ini telah mencerminkan tren penurunan lebih dari 60 persen secara year to date (ytd). Hal serupa juga dialami Sea Limited, entitas induk ecommerce Shopee yang sahamnya kini cuma dibanderol US$91,22 (turun 60 persen lebih). 

Di Indonesia, PT Bukalapak.com (BUKA) juga mengalami fenomena tidak beda jauh. Meskipun, penurunan harga saham yang dibukukan perusahaan ini tidak sebesar Grab dan Sea. Hingga penutupan Jumat (22/4), saham BUKA ditransaksikan senilai Rp370 per saham atau turun hampir 14 persen dari posisi Rp430 secara ytd.

bisnis