Begini Resep Investasi dari Warren Buffett Saat Resesi

Foto: Warren Buffett (AP/Nati Harnik)

Jakarta, Resesi mulai melanda beberapa bagian di dunia. Hal ini dibuktikan dengan adanya pelemahan permintaan yang di sisi lain justru juga terjadi inflasi.

Kondisi ini pun akhirnya berdampak kepada bursa saham. S&P misalnya sempat turun 18% (year to date). Ini karena inflasi yang mencetak rekor 40 tahun terakhir, geopolitik global yang chaos dan ancaman resesi.

Namun, bagi sebagian orang, pasar saham masih menjadi ladang untuk mengeruk keuntungan sekalipun pergerakannya tetap tak menentu. Misalnya, seperti investor terkemuka, Warren Buffett.

"Wall Street menghasilkan uang, dengan satu atau lain cara," kata Buffett dalam pertemuan pemegang saham tahunan Berkshire Hathaway April lalu, dikutip dari CNN International, Sabtu (13/8/2022).

Menurutnya, ada perbedaan antara judi dan investasi. Ini terletak pada pemahaman fundamental perusahaan.

Analisis teknikal sebagian besar didasarkan pada harga dan volume saham. Sementara traders tidak memprediksi masa depan perusahaan.

"Mereka tidak melihat bisnis atau ekonomi yang mendasarinya, melainkan menggunakan grafik dan mengidentifikasi pola untuk memprediksi ke mana arah saham," katanya.

Sementara, analisis fundamental dilakukan oleh investor yang mengevaluasi keuangan, kinerja, persaingan dan ekonomi perusahaan untuk menentukan nilainya. Kemudian berikutnya membeli saham itu saat diperdagangkan dengan harga diskon.

"Pembelian sembarangan itu membantu mengubah Wall Street menjadi 'ruang perjudian'," tambah Buffett lagi.

Pada akhirnya, analisis teknis berguna untuk perdagangan jangka pendek dan untuk pasar waktu. Sedangkan analisis fundamental berguna untuk investasi jangka panjang, yang kurang rentan terhadap keinginan ekonomi.

Sementara itu, mengutip penasihat keuangan Check Capital, Steven Check mengatakan lika ingin mengikuti Buffet, percaya diri bisa menjadi kunci investor. Ia merujuk ke sikap kebanyakan investor yang tidak pandai memprediksi masa depan dan cenderung bereaksi berlebihan terhadap masalah langsung.

"Pasar tidak rasional dalam jangka pendek, tetapi selalu rasional dalam jangka panjang," kata Check.

"Gelembung tumbuh dan pecah tetapi jika Anda harus mempertimbangkan bagaimana bisnis akan dilakukan selama dekade berikutnya dan kemudian bertahan dengannya. Pada akhirnya, Anda akan mendapatkan imbalan," tambahnya.

Ia mengatakan penting untuk melakukan pekerjaan itu sendiri. Ia menekankan agar investor tidak pernah berinvestasi dalam bisnis yang tidak Anda pahami.

"Tempat yang baik untuk memulai adalah dengan membaca tentang perusahaan yang prospektif. Lihat siapa yang mengelola bisnis, apa yang dipromosikan, dan bagaimana caranya," katanya.

"Apakah Anda memahami produk dan apakah menurut Anda memiliki tempat dalam ekonomi masa depan? Tanyakan pada diri Anda apakah Anda akan membangun kembali perusahaan ini dari awal jika diberi perubahan," jelasnya.

Membuka laporan keuangan perusahaan, yang biasanya tersedia di situs web bisa jadi salah satu cara mengenal templar kita berinvestasi. Termasuk mengevaluasi neraca mereka.

"Apakah laporan laba rugi, laporan arus kas, biaya operasi, pendapatan dan pengeluaran mereka tampak sehat? Apakah laba bersih telah meningkat selama beberapa tahun terakhir? Apakah utang perusahaan tampak aneh?," tambahnya.

"Anda juga ingin melihat ekonomi yang lebih luas dan melihat bagaimana perusahaan bersaing dengan pesaingnya Anda ingin berinvestasi dalam bisnis yang menonjol dan memiliki ruang untuk pertumbuhan, terutama di sektor yang ramai. Akhirnya, tetap up to date. Investasi Anda di perusahaan tidak berakhir saat perdagangan berjalan. Ekonomi berkembang dan portofolio Anda juga harus berkembang," tegas Check.


Sumber